Pernahkah Anda bertanya-tanya, entitas bisnis apa yang pertama kali memiliki nilai valuasi pasar di dunia? Jawabannya membentang jauh ke awal abad ke-17, yakni pada Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda. Berdiri pada tahun 1602, VOC diakui secara luas sebagai perusahaan multinasional pertama di dunia yang menerbitkan saham dan obligasi kepada publik demi mendanai pelayaran mereka.
Pada masa itu, melakukan valuasi terhadap armada pelayaran VOC bukanlah perkara mudah. Para penanam modal harus memperhitungkan profil risiko yang sangat ekstrem, mulai dari ancaman kapal karam, serangan perompak, hingga fluktuasi harga rempah-rempah yang tidak menentu di pasar Eropa. Di sinilah konsep dasar penilaian risiko bisnis dan ekspektasi imbal hasil (expected return) mulai terbentuk.
Nilai perusahaan VOC tidak lagi hanya diukur dari aset fisik seperti jumlah kapal dagang atau meriam yang mereka miliki, tetapi dari proyeksi potensi keuntungan masa depan dari monopoli perdagangan rempah. Sebagai trivia tambahan, pada puncak kejayaannya di era Tulip Mania (sekitar tahun 1637), valuasi pasar VOC diperkirakan menembus angka setara $7,9 triliun jika disesuaikan dengan nilai inflasi mata uang modern. Angka ini menjadikannya perusahaan paling berharga dalam sejarah, jauh melampaui gabungan valuasi raksasa teknologi masa kini seperti Apple, Microsoft, dan Google.